Faktor Terjadinya Kriminologi

  1. Menurut teori Aristoteles bahwa kemiskinan menimbulkan kejahatan dan pemberontakan.
Analisis

Kemiskinan dapat menjadi faktor terjadinya kriminologi, karena faktor ekonomi inilah faktor penyebab timbulnya kejahatan pencurian. Kondisi orang/ masyarakat yang berada di bawah kemiskinan,  meningkatnya kebutuhan hidup, dan meningkatnya harga kebutuhan hidup

walaupun kejahatan merupakan suatu gangguan terhadap ketentraman, ketenangan dan keamanan masyarakat yang harus dihilangkan namun  kejahatan tersebut akan selalu ada dan akan tetap ada. Perkembangan kejahatan  akhir-akhir ini tidak sedikit wanita-wanita yang terlibat dalam tindak kejahatan yang sebelumnya hanya lazim dilakukan laki-laki, misalnya ikut serta dalam penodongan, perampasan kendaraan bermotor, pembunuhan atau bahkan otak perampokan.

Dari kasus ini pemerintah juga sudah saatnya memberikan perhatian tidak hanya pada vonis hukuman saja, tetapi juga dalam upaya pencegahan terjadinya pencurian dengan memperluas lapangan pekerjaan, kualitas pendidikan, pengewasan dan pengamanan oleh kepolisisan. Tidak hanya pihak kepolisisan saja, masyarakat juga harus berpartisipasi dan selalu waspada akan kejahatan pencurian dan tindak kriminal lainnya.

Sumber:

http://www.koranmerapi.com/

-Topo Santoso, Eva Achjani Zulva, “ Kriminologi” , Rajawali Press, 2001.

Kasus

Pasutri Nyuri Sepeda

– 26 FEBRUARI 2012POSTED IN: HEADLINEHUKUM & KRIMINAL

SLEMAN (MERAPI) – Kepepet tidak punya uang, sepasang suami istri (pasutri), Db (25) warga Secang Magelang dan St (18), asal Jakarta Barat, kepergok mencuri sepeda onthel milik Prapto Harjono (62), warga Nglengis Banyurejo Tempel Sleman, Sabtu (25/2).   Pasutri tersebut mencuri sepeda korban saat korban sibuk mencari rumput di bulak Persawahan Dusun Karangendek, Margoagung, Seyegan.

Kapolsek Seyegan AKP Supri Purwanto saat dikonfirmasi Minggu (26/2) membenarkan kejadian tersebut. Korban awalnya datang ke lokasi kejadian untuk menyiangi sawahnya. Sepedanya ditaruh tak jauh dari sawahnya.Pasutri yang hanya menikah di bawah tangan ini melintas di lokasi kejadian.

Melihat ada sepeda tak bertuan, keduanya mengambil sepeda milik korban. Sesaat setelah tersangka kabur menggunakan sepedanya, korban melihat dan berteriak minta tolong. Warga di sekitar lokasi kejadian berusaha mengejar tersangka yang ngebut menggunakan sepeda korban.

”Warga berhasil mengamankan tersangka saat kabur menggunakan sepeda milik korban. Kedua tersangka diserahkan ke Polsek Seyegan,” jelas AKP Supri Purwanto kepada Merapi.

Kedua tersangka mengaku kepepet mencuri sepeda karena tak punya uang untuk hidup di Yogyakarta. Pekerjaan Db sebagai pemulung tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keseharian. ”Belakangan diketahui kedua tersangka belum menikah di catatan sipil. Hanya menikah di bawah tangan,” ungkapnya.(Tiw)

 

2.       Teori menurut Thomas Aquino bahwa orang kaya yang hidup untuk kesenangan dan memboros-boroskan kekayaannya, jika suatu kali jatuh miskin, mudah menjadi pencuri

Analisis 

Orang kaya yang hidup untuk kesenangan dan memboros-boroskan kekayaannya, jika suatu kali jatuh miskin, mudah menjadi pencuri. Dari kasus di atas faktor penyebab penipuan/ pemalsuan disebabkan karena kemiskinan/ kebangkrutan, faktor intelegensi dimana tingkat kecerdasan seseorang/ pelaku tersebut yang mempengaruhi perilakunya, usia,  jenis kelamin, kebutuhan ekonomi yang mendesak, pendidikan, pergaulan dan faktor lingkungan.

Dari kasus ini pemerintah juga sudah saatnya memberikan perhatian tidak hanya pada vonis hukuman saja, tetapi juga dalam upaya pencegahan terjadinya pencurian dengan memperluas lapangan pekerjaan, kualitas pendidikan, pengewasan dan pengamanan oleh kepolisisan. Tidak hanya pihak kepolisisan saja, masyarakat juga harus berpartisipasi dan selalu waspada akan kejahatan pencurian dan tindak kriminal lainnya. Pemerintah / aparat kepolisian juga harus lebih meningkatkan pelayanan pengaduan dan kinerjanya terhadap masyarakat.

 

Sumber:

-Topo Santoso, Eva Achjani Zulva, “ Kriminologi” , Rajawali Press, 2001.

http://waspada.net/reports/view/659

 

Kasus

Konsultan Bangkrut Cetak Uang Palsu

15:46 Oct 21 2011 Parung, Bogor

  Penipuan/ Penggelapan/ Pemalsuan

Deskripsi
Bogor, Warta Kota

SEORANG konsultan diamankan petugas Polsek Parung karena diduga membuat uang palsu. HT (48) dan istrinya TW (39) diamankan, Rabu (19/10) petang saat akan membeli rokok menggunakan uang pecahan Rp 5.000 palsu di sebuah warung rokok di daerah Parung, Kabupaten Bogor.

Kepada Polisi, pria yang mengantungi gelar sarjana S2 itu dari salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta itu mengaku hanya iseng mencetak uang palsu menggunakan mesin printer. Dari tangan HT, Polisi menyita upal sebesar Rp 2,6 juta terdiri dari pecahan Rp 20 ribu 64 lembar, Rp 10 ribu, 10 lembar dan Rp 5 ribu sebanyak 257 lembar.

“Saya cuma mencetak uang palsu pecahan Rp 5 ribu, 20 ribu dan 10 ribu,” kata HT kepada wartawan.

Kapolsek Parung Komisaris Maksum Rosidi menjelaskan, HT dan istrinya diamankan setelah pihaknya mendapatkan laporan dari seorang pedagang rokok yang mendapatkan uang palsu dari pelaku.

“Kemudian kita langsung bergerak dan mengamankan keduanya,” ujar Maksum kepada wartawan di Mapolsek Parung, Kamis (20/10) siang.

Maksum menjelaskan, pihaknya kemudian mengembangkan kasus itu denga mengeledah rumah pelaku dan ditemukan Rp 2,6 juta upal berbagai pecahan.

HT, bapak dua anak menjelaskan, dirinya sedang dalam kondisi bangkrut pasca tidak lagi menjadi dosen serta serta sepinya order proyek sebagai konsultan. “Karena saya sedang jatuh, iseng-iseng saya cetak uang asli menggunakan printer dan hasilnya cukup mirip dengan aslinya,” katanya.

Untuk mencetak upal itu, dia hanya menggunakan kertas jenis HVS ukuran kuartoi atau folio. HT mengaku sengaja hanya mencetak uang pecahan Rp 5 ribu, 10 ribu dan Rp 20 ribu karena hasil cetakannya mirip dengan aslinya.

“Satu kertas bisa mencetak enam lembar uang. Tinggal dipotong-potong pakai cutter,” katanya.

Menurutnya, aksinya ini baru dilakukan satu bulan terakhir.“Saya tidak punya niat untuk kaya dari cetak uang palsu. Saya hanya butuh uang untuk bisa makan dan beli rokok,” ucapnya.

Kapolsek Parung, Kompol Maksum Rosidi mengungkapkan, pelaku ditangkap berdasarkan laporan Uha Subagja dan Saeful Amir, pedagang rokok dipinggir jalan Parung.

“Saat beli rokok, dia meminta istrinya yang beli. Sementara dia berada di atas motor sewaan. Polisi yang tengah mengawasi lokasi, langsung menangkap keduanya saat Uha berteriak karena masih mengingat wajah pelaku pria,” kata Kapolsek.

Selain menyita upal, polisi juga menyita satu printer merek Canon yang dipakai untuk mencetak uang asli menjadi palsu, 6 bungkus rokok jarum Super, 2 bungkus rokok Djisamsoe dan 15 sachet kopi susu merek ABC. (wid)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s